|
|
   
MENU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   
KALENDER KEGIATAN
 
DEPARTEMEN-DEPARTEMEN
 
  Departemen Sosial, Budaya & Olah Raga

  Departemen Hubungan Dalam & Luar Negeri

  Departemen Pengembangan Bisnis

  Departemen Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Pendidikan & Pelatihan

 
 
 
 
 

"Sumbang Pemikiran Untuk Strategi Pengembangan Energi Basional - Masih Perlukah Subsidi BBM?".



Pada 16 Juni 2010 Perhimpunan Alumni Jerman Pengurus Pusat mengadakan seminar dengan mengangkat tema "Sumbang Pemikiran Untuk Strategi Pengembangan Energi Basional - Masih Perlukah Subsidi BBM?". Hadir beberapa pembicara yang memiliki kompetensi dalam membahas masalah ini, yaitu (Dirjen Migas Ibu Evita Legowo, Mantan Dirut Pertamina Ari H. Soemarno, Ekomon Faisal Basri dan Dirut Radio 68 H Ir. Santoso).
Acara yang dimulai pada pukul 19.00 ini, di buka dengan kata sambutan dari ketua umum PAJ Dipl.-Betriebswirt. Suchjar Effendi. kemudian jalanya acara diserahkan sepenuhnya kepada moderator Prof. Dr. Bachtiar Aly, MA.
Ir. Ari Soemarno memberi gambaran, betapa banyaknya hambatan dalam merealisasikan dan mensosialisasikan kebijakan pemerintah yang berkaitan tentang masalah subsidi BBM. Menurutnya, perlu adanya Leadership dan keberanian untuk menyampaikan kebijakan tersebut. Beliau mengambil contoh nyata akan hal ini, yaitu saat pemerintah mengeluarkan kebijakan konfersi minyak tanah ke tabung gas LPJ bersubsidi. Kemudian Ibu Evita dalam presentasinya menjelaskan bahwa Indonesia masih sangat tergantung kepada minyak bumi. Disisi lain Konsumsi energi terus meningkat dengan pertumbuhan sekitar 7% pertahun. Kebijakan yang akan diambil adalah Pengurangan subsidi jenis BBM tertentu secara bertahap menuju subsidi BBM tepat sasaran.
Faisal Basri menjabarkan bahwa, jika kebijakan pengurangan BBM bersubsidi akan di keluarkan, maka transportasi massal harus di perbaiki, agar masyarakat tidak terbebani atas kenaikan atau bahkan penghapusan BBM bersubsidi dan memberikan kemungkinan alternatif yang akan di pilih oleh masyarakat terhadap dampak dari kebijakan tersebut. Kita juga harus siap dengan kenyataan bahwa, kebijakan ini pastinya akan menyakiti hati sebagian orang. Disisi lain, Sosialisasi yang jelas terhadap masyarakat juga harus dilakukan (hal ini berkaitan dengan Komunikasi). Ada istilah baru yang muncul di masyarakat berkaitan dengan masalah ini ujar Faisal yaitu "Harga BBM menjadi sumber instabilitas perekonomian", setiap bbm dinaikan - inflasi naik. Ini adalah hambatannya. Menurutnya, pemerintah harus melakukan penyesuaian harga. Selama ini pemerintah dipaksa menyesuaikan harga selalu pada taraf krisis yang tinggi, secara sekaligus dan berdampak Shock policy di masyarakat. Lakukan langkah "Ones for All". 
Disisi lain Ir. Santoso menanggapinya dari segi komunikasi. Menurutnya, komunikasi yg buruk terhadap penyampaian informasi tentang sebuah kebijakan pemerintah yang baik, selalu terjadi dalam mensosialisasikan sebuah kebijakan baru. Komunikasi yang baik harus dimulai dengan esensi yang benar. "Miss komunikasi" dari komunikator kpd komunikan kerap terjadi. Beliau juga menyarankan agar mengalokasikan dana subsidi kepada energi terbaharukan "sholar ship" (misalnya energi panas bumi) dimasa depan.(EF)