Saat ini kita hidup di dalam dunia yang penuh gejolak dan sedang mengalami perubahan sangat cepat. Berakhirnya perang dingin tidak berarti dunia semakin damai. Konflik antara Timur dan Barat berganti dengan perang yang mengatasnamakan melawan terorisme yang menutupi kepentingan untuk menguasai sumber-sumber energi terutama minyak dan gas bumi. Perang terbatas seperti di Irak, Afganistan, Palestina telah menelan korban ratusan ribu jiwa dan orang cacat serta meninggalkan banyak anak-anak tanpa orang tua. Konstelasi geopolitik masih mencari bentuknya dari unipolar menjadi multipolar. Sementara itu, perkembangan geoekonomi ditandai oleh memudarnya citra dan pengaruh lembaga-lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF), World Bank sampai kepada organisasi yang mengatur perdagangan dunia World Trade Organization (WTO). Kegagalan perundingan Doha mengenai perdagangan internasional yang diikuti protes di Seattle, AS terhadap lembaga ini menunjukkan bahwa perdagangan dunia masih bersifat asimetris dan didominasi oleh negara-negara industri yang lebih mengutamakan kepentingannya daripada upaya menciptakan perdagangan yang adil (fair trade). Anjuran agar negara berkembang membuka pintu selebar-lebarnya atas produk impor dari negara industri tidak dibarengi oleh dibukanya akses produk pertanian dari negara berkembang ke negara industri. Harapan bahwa perdagangan bebas akan membawa kemakmuran pada kenyataannya semakin meningkatkan angka kemiskinan di seluruh dunia.
Di bidang lingkungan hidup kita melihat kenyataan bahwa iklim dunia semakin memburuk akibat meningkatnya pencemaran udara yang diakibatkan oleh industri, kendaraan bermotor, pemakaian CFC (Chloro Fluoro Carbon), penebangan hutan yang semena-mena yang berakibat pada semakin membesarnya lubang lapisan ozon, bencana alam, pemanasan global, meningkatnya permukaan air laut yang semua itu mengancam kehidupan umat manusia. Selain itu, jangan pula kita lupakan semakin meningkatnya jumlah limbah padat maupun cair yang mencemari lahan maupun perairan yang menjadi sumber kehidupan kita sehari-hari.
Umat manusia kini juga menghadapi ancaman krisis energi fosil yang jumlah cadangannya semakin berkurang dengan cepat. Sementara itu, teknologi baru yang bisa dengan cepat memanfaatkan energi terbarukan belum sepenuhnya bisa menggantikan peran energi fosil. Walaupun demikian sebagian umat manusia masih merasa optimis bahwa kemajuan teknologi akan dapat mengatasi krisis energi ini, seperti dikembangkannya green energy (biofuel), wind energy, solar energy, sampai pada energi hydrogen yang diramalkan akan mengubah struktur sosial masyarakat menjadi lebih desentral dan demokratis.
Dunia sampai saat ini masih dihantui oleh berkembangnya berbagai penyakit seperti HIV/AIDS yang dapat menjadi ancaman punahnya umat manusia seperti yang kita lihat di Afrika bagian selatan. Penyakit-penyakit lain yang menyebar terutama di bagian selatan bumi ini masih belum dapat diatasi dengan tuntas seperti SARS, Flu Burung, Demam Berdarah Dengue, hepatitis, dll. Sementara itu, tingkat kemiskinan absolut dibeberapa belahan dunia mencapai 40%. Pertumbuhan ekonomi tidak menjamin terjadinya pengurangan angka kemiskinan. Di negara yang berkembang antara tahun 2000-2005 jumlah orang miskin hanya berkurang 100 juta orang. Sementara itu, jumlah pengangguran meningkat di mana-mana dan berakibat pada meningkatnya jumlah kriminalitas di seluruh dunia seperti prostitusi, trafficking, penyalahgunaan narkoba, dll.
Perkembangan ekonomi dunia sampai saat ini, khususnya bagi negara sedang berkembang tidak menuju ke arah yang positif bahkan sebaliknya. Menurunnya kegiatan produksi, meningkatnya hutang luar negeri, dan jumlah pengangguran serta angka kemiskinan berakibat buruk pada situasi politik mereka dan mengancam eksistensi negara. Mulai banyak negara yang sedang berkembang tidak bisa mengatasi berbagai persoalan yang sedang mereka hadapi dan semakin banyak yang membutuhkan bantuan internasional. Itulah beberapa hal yang sedang kita hadapi di tingkat global.
Situasi Indonesia secara umum
Krisis ekonomi dan moneter yang melanda Indonesia tahun 1997 telah menghancurkan industri-industri dalam negeri seperti industri tekstil, otomotif, properti dan perbankan yang berakibat pada meningkatnya jumlah angka pengangguran. Hutang luar negeri Indonesia selama krisis pernah mencapai US $ 145 miliar dan cadangan devisa negara yang terkuras habis akibat larinya modal ke luar negeri setelah jatuhnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.
Indonesia saat itu berada dititik nol, angka inflasi yang mencapai 78% nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika jatuh dari Rp 2.400,00 sampai Rp 17.000,- per dolar yang berdampak pada meningkatnya biaya produksi. Sementara itu pertumbuhan ekonomi mencapai -14,78%, pengangguran menjadi 40 juta orang dan jumlah orang miskin menjadi 100 juta orang. Pendapatan perkapita menurun dari US$ 1.080 menjadi US$ 449.
Kini setelah sepuluh tahun reformasi Indonesia belum sepenuhnya pulih dari krisis walaupun data ekonomi makro menunjukan perbaikan seperti pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,5%, nilai tukar rupiah terhadap dolar yang stabil, pengelolaan hutang luar negeri yang lebih terkendali, meningkatnya jumlah cadangan devisa di atas US$ 50 miliar, menurunnya tingkat inflasi dan perbaikan perdagangan luar negeri serta menurunnya tingkat suku bunga perbankan. Di sisi lain kita masih prihatin jika kita melihat angka pengangguran yang tidak mengalami pengurangan secara signifikan, angka kemiskinan yang semakin meningkat, dll.
Di bidang politik kita boleh merasa bangga bahwa Indonesia telah berhasil meninggalkan sistem otoritarian menuju sistem politik yang lebih demokratis. Kebebasan berpendapat dan berorganisasi yang selama lebih dari tiga dasawarsa terkekang kini mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia. Kita berharap di alam yang demokratis ini akan banyak lahir, tumbuh dan berkembang generasi muda Indonesia yang di masa depan dapat membawa dan memimpin Indonesia menjadi lebih baik dan mendapat respek dari dunia internasional.
Kekurangan-kekurangan yang terjadi dalam sistem yang demokratis ini kita harapkan dapat segera diatasi jika kita lebih mendahulukan kepentingan bersama dari pada kepentingan pribadi atau kelompok. Di tengah-tengah kepahitan dan kekecewaan serta terpinggirkannya peranan Indonesia di tingkat internasional kita harus tetap berusaha, tetap optimis akan masa depan kita jika kita mau bekerja keras, bahu-membahu, tolong menolong, dan mengutamakan kepentingan bersama.
Di bidang pendidikan kita berharap akan terjadi kemajuan signifikan, jika pemerintah mulai melaksanakan reformasi pendidikan dan melaksanakan keputusan parlemen yang mengesahkan jumlah anggaran belanja untuk bidang pendidikan sebesar 20% dari anggaran belanja negara setiap tahunnya. Hanya melalui upaya terus menerus yang sistematis dan menyeluruh di bidang pendidikan, nasib bangsa Indonesia di masa depan akan jauh lebih baik, dibandingkan jika kita masih mengandalkan kekayaan sumber daya alam yang kita miliki sebagai satu-satunya modal pembangunan.
Melalui kerjasama internasional, baik bilateral maupun multilateral, kita berharap dapat membantu mempercepat penyelesaian berbagai masalah yang sedang kita hadapi dan sekaligus kita juga dapat memberikan kontribusi bagi perdamaian dunia, serta berperan aktif mengatasi berbagai masalah global bersama-sama dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia ini. Kata kuncinya adalah cooperation dan Fair competition.
Situasi Alumni Jerman
Sampai saat ini tercatat tidak kurang dari 25.000 alumni Jerman tersebar di seluruh Indonesia dan di berbagai negara. Mereka yang pernah mengecap pendidikan di Jerman dari berbagai bidang ilmu pengetahuan merupakan aset yang dimiliki bangsa. Banyak dari mereka yang memiliki posisi penting di lembaga pemerintahan, lembaga negara, perusahaan swasta baik nasional maupun asing, di lembaga penelitian dan pendidikan, NGO, dan lembaga-lembaga internasional. Secara individu, alumni Jerman banyak yang berhasil di bidangnya masing-masing. Prestasi mereka luar biasa, bahkan tidak sedikit yang menonjol di tingkat internasional. Di sisi lain, secara organisasi alumni Jerman belum mencapai tingkat yang mampu untuk menggerakkan organisasi alumninya yang memberi pengaruh besar terhadap perjalanan bangsa Indonesia. Jika kita mampu memanfaatkan dan memberdayakan potensi yang sangat besar ini untuk kemajuan bangsa, maka peranan alumni Jerman di abad ke-21 akan tercatat dengan tinta emas.
Perhimpunan Alumni Jerman (PAJ) merupakan salah satu wadah alumni Jerman yang dapat mewujudkan impian ini. Melalui PAJ kita dapat berbuat banyak untuk umat manusia, karena oganisasi ini merupakan organisasi alumni Jerman terbesar yang memiliki ribuan anggota dan cabang yang terbentang dari Aceh hingga Papua yang mayoritas anggotanya merupakan manusia yang sukses dalam kehidupannya dan mempunyai pengaruh yang tidak kecil di masyarakat.
Berdasarkan potensi yang dimiliki, PAJ dapat lebih banyak berperan dalam memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa Indonesia, di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. PAJ sekaligus juga dapat memainkan peran penting dalam meningkatkan hubungan Indonesia dan Jerman di berbagai bidang.
Latar belakang tersebut merupakan landasan untuk membuat rencana strategis PAJ untuk periode 2007 2010.
********
VISI, MISI PAJ 2007 -2010
VISI
Menjadikan Perhimpunan Alumni Jerman sebagai organisasi alumni Jerman terbaik di tingkat nasional maupun internasional dalam memenuhi aspirasi anggotanya dan pelayanan terhadap masyarakat serta dapat memberikan kontribusi pemikiran untuk kemanusiaan dalam bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Ekonomi, Politik, Sosial dan Budaya.
MISI |
| 1. |
Memperkuat Kesekretariatan Perhimpunan Alumni Jerman melalui
Pembangunan kapasitas (Capacity building), kepengurusan dan staf di tingka pusat maupun di daerah. |
| 2. |
Meningkatkan kualitas alumni Jerman melalui berbagai kegiatan pelatihan di berbagai bidang di dalam maupun di luar negeri. |
| 3. |
Melakukan penelitian dan pendataan mengenai situasi, kondisi dan keberadaan alumni Jerman yang akan di gunakan sebagai data base. |
| 4. |
Melakukan berbagai penelitian di berbagai bidang yang berkaitan dengan kepentingan alumni Jerman dan masyarakat. |
| 5. |
Membuka, menjalin dan meningkatkan hubungan serta kerja sama di bidang Ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, politik, hukum, sosial dan budaya dengan : |
| |
a. |
Lembaga-lembaga eksekutif, yudikatif, legislatif diIndonesia, Lembaga Pendidikan, Lembaga Penelitian, perusahaan dalam dan luar negeri, Media, NGO, lembaga lembaga keagamaan, dan partai politik |
| |
b. |
Pemerintah Jerman dan lembaga-lembaga perwakilan Jerman di Indonesia dan Uni Eropa. |
| |
c. |
Oganisasi alumni Jerman di seluruh dunia |
| |
d. |
Organisasi internasional yang mempunyai perwakilan di Indonesia. |
| |
e. |
Organisasi alumni luar negeri lainnya. |
| 6. |
Membentuk asosiasi profesi, keahlian, pengusaha, dan senior expert alumni Jerman
|
*****
ANALISIS SWOT
Keberhasilan PAJ untuk mencapai sasaran prioritas atau target kerja dipengaruhi oleh banyak faktor. Untuk itu perlu dilakukan identifikasi agar diketahui dan ditentukan faktor-faktor yang termasuk kategori kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.
Melalui teknik analisis peta kekuatan ( Analisis SWOT) terindentifikasi faktor-faktor sebagai berikut :
1. Lingkungan Internal meliputi :
|
- Kekuatan ( Strength) |
| a. |
Jumlah alumni Jerman yang mencapai 25.000 orang yang berlatar belakang berbagai macam pendidikan dan keahlian yang bekerja di lembaga pemerintahan, lembaga negara, perusahaan dalam negeri, BUMN dan asing, anggota parlemen, pengusaha, dosen, peneliti, jurnalis, NGO, dll. |
| b. |
Sumber daya manusia yang berkualitas ini juga memiliki kekuatan finansial yang sangat besar dan jejaring (networking) yang tidak hanya tersebar di seluruh Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia, serta modal sosial yang dimilikinya. |
| |
|
- Kelemahan (Weaknesses) |
| a. |
Belum efektifnya organisasi alumni Jerman terbesar seperti PAJ untuk memenuhi aspirasi anggotanya dan aktif memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa Indonesia serta menjadi jembatan bagi hubungan Indonesia Jermanb. Masih lemahnya sekretariat PAJ Pusat dan cabang-cabangnya termasuk kemampuan sumber daya manusianya dan perlengkapan kerja yang mendukung tugas-tugas sekretariat. |
| b. |
Terkonsentrasinya anggota PAJ dan alumni Jerman di wilayah Jabodetabek. |
| c. |
Belum terdata secara keseluruhan jumlah dan potensi alumni Jerman |
| d. |
Belum terbentuknya komunikasi yang handal antar alumni dan antar organisasi alumni Jerman |
| |
|
| 2. |
Lingkungan Eksternal meliputi : |
Peluang ( Opportunities) |
| a. |
Reformasi telah mengubah negara Indonesia menjadi lebih demokratis dan memungkinkan kebebasan yang lebih luas untuk berorganisasi, mengeluarkan pendapat, dan meningkatkan kreatifitas yang membuka peluang lebih besar untuk lahir dan berkembangnya sumber daya manusia serta pemimpin yang berkualitas. Aspirasi dan partisipasi anggota untuk organisasi juga semakin terbuka lebar. |
| b. |
Globalisasi dan terbukanya perekonomian nasional akan menjadi peluang bagi individu dan organisasi yang memang benar-benar siap dan memiliki kemampuan untuk menjawab tantangan. |
| c. |
Otonomi daerah membuka peluang bagi alumni Jerman untuk berkiprah di berbagai sektor yang diperlukan. |
| d. |
Dukungan dari alumni Jerman lainnya, juga dari pemerintah Indonesia dan pemerintah Jerman. |
| |
|
Tantangan ( Threats) |
| a. |
Situasi nasional secara keseluruhan, terutama di bidang ekonomi belum sepenuhnya kondusif untuk perkembangan dunia usaha, kehidupan sosial masyarakat. |
| b. |
Otonomi daerah membuka peluang untuk munculnya sektarianisme yang pada akhirnya semakin jauh dari cita-cita luhur para pendiri bangsa. |
| c. |
Rendahnya suku bunga perbankan berdampak pada penurunan nilai real dana abadi PAJ yang selanjutnya menurunnya penerimaan bunga yang digunakan untuk kegiatan organisasi. |
| |
|
Formulasi Strategi |
Penentuan strategi dilakukan dengan menginteraksikan faktor-faktor internal dan eksternal melalui analisis SWOT sebagai berikut : |
| a. |
Strategi mengoptimalkan kekuatan dan memanfaatkan peluang (SO) adalah : |
| |
- |
Optimalkan pemanfaatan seluruh potensi yang dimiliki alumni Jerman dan komunikasi yang intensif sesama alumni Jerman maupun antar organisasi dan jejaringnya. |
| |
- |
Optimalkan dan manfaatkan hubungan yang baik dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah Indonesia di pusat maupun di daerah, perusahaan swasta, BUMN dan pemerintah Jerman, termasuk seluruh perusahaan dan perwakilan lembaga-lembaga Jerman di Indonesia. |
| |
|
|
| b. |
Strategi mengurangi kelemahan dan memanfaatkan peluang adalah : |
| |
- |
Tingkatkan kemampuan pengurus dan anggota PAJ Pusat dan cabang cabang, terutama sumber daya manusia di sekretariat dan melengkapai perlengkapan kerjanya |
| |
- |
Tingkatkan komunikasi sesama pengurus, anggota serta alumni Jerman lainnya dan juga komunikasi dengan lembaga pemerintah, perusahaan swasta, BUMN, pers, lembaga perwakilan dan perusahaan Jerman di Indonesia. |
| |
- |
Minimalkan tingkat kesenjangan pemikiran dan kemampuan pengurus, anggota serta alumni Jerman lainnya melalui berbagai pelatihan di dalam maupun di luar negeri dengan menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga Jerman. |
|